Ungkapan Mutiara

Kita seperti teko, apa yang dikeluarkan maka seperti itulah di dalamnya. Maka berjanjilah untuk selalu membahagiakan orang lain, karena dengan begitu kita membahagiakan hidup kita sendiri (Rosa Rahmania))

Memberi sebanyak yang kita mampu, lalu kita akan menerima sebanyak yang kita butuhkan! InsyaAllah(Luluk Evi Syukur)

Ide-ide gila, butuh orang gila juga untuk mewujudkan semuanya. Demi bumi dan isinyam, baiklah. (Ana Falasthien Tahta Alfina)

Selagi sabar itu ada dalam diri maka selagi itu juga Allah akan mengujinya dan hanya mereka yang benar-benar sabar dapat dengan mudah mengatasi ujianNya (Luluk Evi Syukur)

Selepas ashar nanti Kutunggu di semenanjung hati, mendawai indahnya pelita, kala pelangi berbagi warna, selepas maghrib nanti, Kutunggu di ujung nadi, lantunkan kalam Illahi, hingga Isya hadir kembali (Khasanah Roudhatul Jannah)

Kawan, ingatlah dengan hidup ini, kadang kesusahan dalam mengarungi takdir membuat hidup kita di akhirat nanti menjadi lebih berkualitas. Dan Jangan lah berlebihan di kehidupan ini, karena takut-takut terasa hambar di akhirat nanti. So, Jadikanlah apapun itu tentang kehidupan, lalu rayakanlah dengan kesyukuran.(Adi Nurseha)

Memoar kehidupan yang tak berujung hingga kematian menjemput. Lantas sudah sampai di mana kisah kehidupan ditorehkan? (Luluk Evi Syukur)

Kau yang masih setia mengulum rindu, Kudendangkan senandung lagu merdu, Sebagai pengobat rindu di dada, Sebagai pelipur segala lara, Tersenyumlah sayang, Rindu ini pun masih terus membayang Untukmu duhai kekasih hati Sambutlah syahdunya nyanyian hati (Khasanah Roudhatul Jannah)

Jaga selalu hatimu (Rosa Rahmania)

Tak semua yang diinginkan dapat terwujud sesuai rencana. Pergi saat indah. Allah pasti punya rencana terindah dibalik semua ini. Hanya itu yang bisa menguatkanku saat ini (Yopi Megasari)
Tampilkan postingan dengan label Karya Moes Arsyil Ramadhan Afrilla. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Moes Arsyil Ramadhan Afrilla. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Mei 2011

Ijinkan Aku Bertanya


Selalu saja resah menjarah kenangan, setiap kali kubaca episode keresahanmu, yang sering kau samarkan di hadapanku, sadarkah kau sobat kau kini rapuh? Semua ketegaran batinmu yang dulu selalu memukauku dan yang lain, kini kau asingkan di ruang hampa, ruang di mana hanya dirimu, sekeping hasrat, dan kesedihan yang risih bercengkrama, adakah embun masih menetes pada pipi-pipi pecinta dunia, aku ingin bertanya padamu sobat, kenapa pekat seakan begitu melekat kini, tapi kerongkonganku seakan tercekat, hingga tak satupun kata terucap, dan aku hanya mampu terbungkam!!!

Di Sajadah. Aku bertemu. Aku berbincang. Aku mengadu. Aku menangis, di sajadah sejuta doa kupanjatkan, aku merindui, sosok yang selalu kubanggakan dan jadi inspirasiku untuk tegar, untuk selalu berucap, hadapi apapun aku mampu, karena pertolongan Allah selalu dekat dengan hambaNya. Achhh sesungguhnya aku membenci keluahan, kenapa? Masih jelas dalam ingatanku saat abang tertuaku ajarkan aku untuk kuat, dia pernah berucap "Keluhan dan rintihan hanya untuk perempuan, rengekan dan tangisan hanya untuk anak kecil" Kau bungsu, tapi ingatlah kelak kita akan menemui hidup masing-masing, karena esok adalah misteri,belajarlah yang bisa kau pelajari, selagi itu punya nilai guna untukmu kelak dan semoga untuk sesama juga jika bisa.

Sahabatku, kuingin kau kembali, tegar dalam sikap sempurna, biarkan kisah cintamu yang kandas, terbang bersama angin yang tak pernah letih berlari, bukankah Tuhan selalu menyiapkan ganti ganda untuk semua keikhlasan hati? Dalam satu jiwa yang ramah, adilkah jika cintamu padanya mengabaikan, cintaNya, cinta ayah bunda, cinta sahabat, cinta sesama yang menyayangimu tanpa berpikir meninggalkanmu, tanpa pernah bandingkan kau dengan yang lain, tanpa pernah ingin kau terluka dan kecewa. Lalu, di mana adilmu dulu? Seperti juga kau yang bimbang menakar hati, kenapa dirimu enggan mengukur perasaan?

Biarkan gelombang berpaut pada Laut
Nyanyian semilir dedaunan
Gesekan ranting yang sendu penuh makna jadikan sebagai tumpukan galau hati
Lelaplah dalam keheningan sepi.

Aku tahu sewaktu-waktu engkau datang ke tempat itu
Ke mana lagi, jika bukan membawakan hatimu
Mencari apa yang tidak engkau dapat
Bagimu di sana langit, pantai dan desiran ombak
Sebuah bulan kuning bertengger di atasnya
Pada malam yang di dekap rindu

Menggantung...
Jauh-jauh engkau mencari tanpa bertemu
Untuk apa? Sadarlah sobat dia bukan untukmu...

Padahal bulan itu bertengger di cela-cela hatimu
Bintang-bintang akan menemanimu sampai tiba di ujung perjalanan
Segala tanda dan kepahitan getir sebelum runtuh dan kehilangan

Tak perlu kujelaskan semua
Karena yakinku kau mengerti
Aku hanya berharap kau segera pahami potensi diri
Bukan ratapi semua yang telah berlalu pergi

Seribu maaf jika tajam kataku, dalam gunting waktu yang membabat semua tanya yang menyumbat kepalaku sobat, aku tak ingin selamanya terpendam diam, dalam gamangmu, dalam penghakimanmu seakan kutak pernah peduli atas lukamu. Jangan jadikan aku dan sahabatmu bagai pesakitan di kursi persidangan yang hanya menunggu ketuk palu keputusan, biarkan kami juga rasa saat kau kecap pahitnya kecewa, saat kau reguk manisnya bahagia. Terlalu banyak tanya yang tak bisa terjawab sendiri tanpa bisa diterka ada apa sebenarnya.

06/05/2011:1:40 AM
Inspirasi menulis, saat baca status sahabat"Ya Allah sungguh aku cemburu... :( ..." Simbolnya menandakan keresahan, tapi dia menelannya sendiri, lalu di manakah mereka yang mengaku sahabatnya? Saat sahabatnya butuh tempat berbagi, acuhkah mereka?

Oleh: Moes Arsyil Ramadhan Afrilla (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Rabu, 04 Mei 2011

Jika Harus Kugadai Namaku


Suara salam dari depan pintu kamarku membuyarkan kosentrasiku yang asyik menuangkan sejuta cerita yang tak bisa kuucapkan lewat kata, bukan karena aku pemalu, bukan pula karena gagu bicaraku, tapi aku ingin menjamah dunia lebih luas, ya lewat tulisan seperti ini. Tidak mungkin mereka bisa mendengarkan suara teriakanku bercerita, jika mereka di sana aku di sini, alternatif memang ada yaitu via telepon, tapi selain mempertimbangkan biaya tarif, juga mempertimbangkan kesibukan masing masing tentunya, jika via tulisan, mereka bisa baca kapan saja jika punya waktu luang.

Bergegas bangkit kubukakan pintu, dan? "Woiiiiii kapan datang loe" Ujarku, menepuk bahunya, walau keanehan langsung bisa kulihat dari sosoknya yang kini di depan pintu. Dia langsung menerebos masuk dan melemparkan tubuhnya ke tempat tidur. Sejenak kutinggalkan dia untuk membuatkan sirup dan mengambilkan sedikit cemilan untuk teman mengobrol.

"Loe kapan datang sob" Tanyaku, ia bangkit dan duduk. Sekarang aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Matanya cekung dengan sedikit garis hitam menandakan dia sering begadang atau kurang tidur, kulitnya juga kusam, dengan kumis tipis dan jenggot yang tampak tidak terurus, rambutnya juga sudah mulai agak panjang, sangat kontras dengan sosoknya yang biasa, yang selalu tampil rapi, wangi, dan bersih, serta gelak tawa canda setiap kali dia datang.

Dia menatapku sesaat, lalu mereguk minuman, "Gue udah satu bulan pulang, maafin gue sobb" Lanjutnya sambil tersenyum patah.

"What? Satu bulan? Dan baru sekarang loe muncul?" Bukankah biasanya jika dia datang paling hitungan jam di rumahnya, dia akan langsung cabut menemuiku untuk mengantarkan oleh-oleh lengkap dengan sejuta cerita tentang apa saja hal-hal terbaru yang ia temukan di ibukota Jakarta, kali ini bukan saja penampilannya yang beda, tapi kebiasaannya juga ikutan berbalik arah, biasanya seminggu sebelum kepulangannya dia selalu meneleponku untuk bertanya mau dibelikan oleh-oleh apa. Aku masih ingat semester lalu dia membelikanku simcard M2, padahal di kabupatenku belum bisa dipakai, hahaha, jadilah oleh-olehnya hanya jadi koleksi di lemariku, padahal dia mau mengurangi jajannya 150.000 hanya untukku, bisa semakin lancar online. Dia tau sekali hobiku, padahal uang segitu untuk anak kuliahan sudah cukup lumayan. Namanya sahabat tidak pernah berhitung, yang aku juga tau bahagiamu juga bahagiaku begitu juga sebaliknya.

Ada keraguan terpancar di matanya, berkali-kali dihembuskan nafas panjang, "Loe kenapa sebenarnya sob" Tanyaku, yang sedikit banyak bisa merasakan kalut jiwanya.

"Gue ke sini mohon bantuan loe sob" What? Mohon? Tentu saja aku tak bisa menahan tawa.

"Sejak kapan loe segitu pormil bicara sama gw" Tanyaku.

"Gue serius" Jawabnya cepat.

"Oke to the point aja sob, can me help you?"

"Gue butuh uang sementaran, gue belum dapat kerja, gue gak tau kapan bisa mengembalikan, tapi begitu gue udah bisa ngembalikan uang loe, gue pasti bayar, loe percaya gue kan?" Perkataannya semakin terasa aneh di telingaku, sejak kapan dia kekurangan uang? Untuk apa? Dan seribu tanya yang akhirnya aku telan kembali demi melihat keseriusnya.

"Okey gw janji, gw akan bantu loe, jikapun gw gak bisa menuhi permintaan loe sekarang, gadai nama akan gw lakuin untukmu sobat"

"Maksudnya?"

"Ya jika permintaan loe melebihi kantongku, gw akan pinjam ke kakak, abang atau teman lain, tentu dengan menggunakan namaku sendiri sebagai jaminan" Jawabku. "Dengan satu syarat loe ceritain, sebenarnya loe kenapa?" Ia menunduk sebelum gerak bibirnya lantunkan satu ayat yang bukan saja mungkin mencabik hancur rasanya, sekaligus aku yang mendengarnya.

"Ortu gue cerai, bokap kawin lagi dan adik gue ikut bokap, gue ikut mama" Jawabnya setelah sedikit menguasai diri, "Gue mutusin berhenti kuliah, satu bulan mengurung diri, karena gue belum sanggup menjawab pertanyaan teman-teman, gue malu sob"

Kilas balik, saat aku mengenalnya, sosok itu bukan saja tampan dan rupawan tapi juga darmawan, dengan prestasi di bidang olahraga terutama sepakbola, mampu membuatnya diterima tanpa test di sekolah di Ibukota. Anak seorang penguasaha lumayan sukses yang serba berkecukupan tidak membuatnya lantas sombong, dia tetap santun, dan setia kawan tak butuh waktu lama untuk kami saling akrab dan bersahabat setelah perkenalan pertama. Meski berjarak komunikasi tetap jalan via telepon. Pantas, tiap kali aku telepon, HP-nya tidak pernah aktif, SMS juga tanpa balas. HP-nya ikut dia hancurkan bersama hancurnya keluarganya. Tenangkan hatimu Sob, masih ada bapak dan ibuku, abang dan kakakku, "Loe gak pernah sendiri, tegarlah, sabar dan ikhlaslah, kami masih tetap sama, jangan ada ragu" Ujarku mencoba menghiburnya.

Hidup adalah suatu awal menuju kematian
Hidup adalah suatu pergiliran kebahagiaan dan penderitaan
Hidup adalah suatu kegelisahan dan kelegaan
Hidup adalah kebahagian dan penderitaan

Berbahagialan ketika dirimu menderita dengan bersabar
Berbahagialah dirimu ketika memang harus berbahagia dengan bersyukur
Karena hidup adalah kebahagiaan walaupun sebenarnya menderita hancur

Betapa penderitaan menjadi bahagia kala kita meresapi bahwa kita masih bernafas sementara lainnya harus mati dan fana.
Betapa bahagianya hidup jika kita bersyukur atas nikmat yang ada.
Betapa bahagianya hidup jika kita bersabar atas derita yang ada.

Pelajaran dan hikmah selalu ada di sekeling kita, kalau tak ada yang pantas kita sombongkan dan banggakan, karena jika Tuhan ingin, Dia bisa merubah semua dalam sekejap. Ketahuilah, yang akan kita hadapi akan jauh lebih berat dari yang telah kita lalui, agar kita tidak lupa dan lalai saat di puncak puja-puji. Dan kita tidak akan tau apa yang terjadi esok hari, jika di hari ini kita berhenti. Semangatlah untuk bangkit sahabatku, jangan pernah menyerah. Sepahit pahitnya sebuah kenyataan, akan tetap jauh lebih indah dari indahnya sebuah mimpi, tapi bermimpilah untuk menjaga semangatmu, karena dengan adanya mimpi, kita akan berusaha untuk mewujudkannya.

Oleh: Moes Arsyil Ramadhan Afrilla (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Selasa, 26 April 2011

Lukamu adalah Siksa Batinku


Mataku tertuju pada salah satu status sahabatku malam itu, ini anak kok tiba-tiba puitis?

Mr. XX: Kan kubiarkan ruang hampa di dalam hidupku...
Moes Arsyil Ramadhan Afrilla: Sok puitiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiis loe.
Mr.XX: Gw lagi nyanyi lo tau ga tu judulnya gw lupa, "Kan kubiarkan ruang hampa di dalam hidupku bila aq harus mencintai dst" lo tau ga?
Moes Arsyil Ramadhan Afrilla: Cinta sejati by Element, betul kasih bonus :D
Mr. XX: Salah! bego bgt lo ah
Moes Arsyil Ramadhan Afrilla: Salah dikit aja, demo loe sob xixi maaf, kejaaam loe
Mr. XX: Hidup aja ma gw kejam, gw harus kejam
Moes Arsyil Ramadhan Afrilla: Kecuali ma w jangaaan wkwkwk
Mr. XX: Ga ada pengecualian dlm hidup gw

Dan percakapan kami lanjutkan di chat,

"Woyyy belum tidur loe?" Tanyanya

"Jiaaah salam dulu baru nanya" Balasku, obrolan kami mengalir bagai air bening di anak sungai, aku minta ijin untuk menulis tentang kisahnya, 7 tahun pacaran akhirnya hubungannya kandas. Meninggalkan goresan luka, meninggalkan cerita sumbang dalam luka yang mungkin nyeri yang ia rasakan hingga kini, sampai ia berucap, "Gw gak pernah percaya pada yang namanya cinta sejati, kecuali cinta Tuhan pada umatNYA, cinta ibu pada anaknya"

"Dubraxx artinya, selama ini kasih sayang gw sebagai sahabat juga dianggap palsu? hmmmm sungguh terlalu sobat,hehehe"

Terkutuklah
Cinta yang berderak-derak di pangkalan telinga
Mengingang laju kumuh
Bersenggama hina kau bertanya pada sengsara

Sepasang sekoci berlumur lumut
Membatu bersama karang
Daripada kau terjungkal ke lautan
Mari kita eja rasa dengan semestinya

Terkutuklah
Cinta ditambah cinta menjadi sampah
Terciumi sengatan membesarkan arwah di dalam kubur
Sungguh, kuncilah hati sebelum kau terbawa digiling kunyah

Peradaban kau gilir dengan martabat sumbang
Kau gulai mentah dalam belanga kubangan air mata
Mendidih jantung kesumat menatap mata tersumpal bara
Jangan cinta kau ucap perlahan pada yang lapar di pesisir hujan

Merajai iblis dalam sumpah serapah memutar masa
Duh, sampai setega ini cinta mereka permainkan
Terkadang gadai sudah rasa
Dalam meja perjamuan bersama pimpinan setan

Gerhanakah hatimu kini? hingga saat kutawarkan menjemput purnama kau merantai langkah, mengunci mati rasa, membekukan seluruh sendi gerak tubuhmu, menulikan telingamu, hingga aku tak lagi berhak berkata apa-apa, lakukan apa yang kubisa demi sebentuk senyum kembali, tawa canda yang warnai hari, lukiskan kisah indah hari muda kita,mencatat dalam ingatan batas manusia. Sobat jangan hakimi aku seperti dia, aku tidak ikutan meninggalkanmu, aku masih ingin bercerita banyak padamu, saat gundah dan resah menyapa hariku atau sebaliknya, kuingin kita selalu bisa berbagi cerita, agar cerita dusta tak terpendam mati dan membusuknya hati.

Gerhanamu yang kuandai menjadi kebuntuan, pekat dan menampar-nampar, keduabelah tangan yang mengarah ke mukaku sendiri, sudikah waktu memutar lagi saat purnamamu dulu harapku, kuingin selau kau bahagia sobat, harap kembalilah cinta menyapamu, kau tau? aku dirundung cemas yang menyiksa, ketahuilah sahabatku, selayaknya manusia, hidup adalah bergerak dan tumbuh, ada duka dan tawa, setelah itu mati, sebab mati adalah keniscayaan yang pasti, tapi sebelum maut menjemput, ijinkan aku memberi nilai guna untuk sesama, ijinkan aku mengubah gerhana jadi purnama, ijinkan aku tetap bersamamu mencari cahaya, agar tiada sesalku nanti, jika aku mendahuluimu menghadapNya. Tidak ada kekejaman yang ingin kuberi, yang kurasa, lukamu akan jadi siksa batinku jika kubiarkan kau merintih sendiri menahan nyerinya, karena kujuga tau, jauh di lubuk hatimu, hatimu terlalu indah untuk menyimpan luka, merasa sendiri, mendustai hati yang masih butuh tempat berbagi.

Oleh: Moes Arsyil Ramadhan Afrilla (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Selasa, 19 April 2011

Jeda Waktu untuk Ibu


Kutatapkan mata hatiku pada penjuru waktu, kulampiaskan tanya jiwaku pada yang kujumpai, ada rasa kian meronta, karena asa adalah hidupnya jiwaku. Langkah demi langkah ayunan hatiku berpijak, menelusuri gugusan masa hidupku, kurasakan getar-getar penuh misteri, menyusuri jalan berpasir. Kerikil bahkan kadang berbatu. Angan menggapai namun tiada membekas, hampa sebuah raihan kandas dalam bidikan, sebuah perang sunyi di belantara gundahnya hati.

"Bunda gw kritis mohon doanya"

Sebuah pesan masuk yang dikirim salah seorang sahabat baruku, aku termengu miembacanya, singkat memang kalimatnya, tapi kata mengandung sejuta makna, ada kegundahan, kekhawatiran, pengharapan, dan kecemasan terangkum di sana. Kuletakan telepon genggamku, saat kucoba menelepon nomor dia, namun tidak aktif. Kulihat laptopku, dia sedang online. Kucoba untuk memberi support dengan sejuta kata (sok bijak) yang kupilih, lumayan banyak ucap kulemparkan, jawabannya?

"Gw gak bisa mikir!" deggg...biasanya aku akan langsung meninggalkan obrolan seperti itu, tapi kali ini aku bertahan, semoga dia bisa sedikit tenang dengan membaca kata kataku kembali, tapi jawabannya tetap sama!

"Gw gak bisa mikir, gw belum siap menerima kabar terburuk,makanya HP gw matiin!"

Kugapai tiada kudapat, bak peluru tiada bermusuh, sunyi di medan lagaku, sepertinya rasa ini adalah perjalanan panjang, sepanjang keinginanku untuk berbagi beban, menenangkan kalutnya, namun jarak terbantang jutaan kilo, tak mungkin kutempuh perjalanan dalam sekejap, aku terhenyak. Haruskah keadaan ini dia lalui seorang diri, diam termenung berteman kalut? hingga rasaku habis merenungi penjuru waktu, yang hanya terpena di hati, maafkan aku sahabatku, hanya doa tulus terikhlas yang sanggup kulafalkan, semoga bundamu diberi kesembuhan.

Halilintar menggelegar, daun-daun berguguran, langit biru menghilang, burung-burung tinggalkan sarang, rintik hujan berjatuhan, pohon tumbang tercabut dari akarnya, awan hitam semakin mengambang, kulangkahkan kaki menuju cakrawala insyaf dan sadar atas khilafku, ya Rabb ampuni aku, betapa selama ini aku terlena, betapa selama ini begitu sedikit kebahagiaan yang kuberi pada ibuku, padahal begitu banyak waktu dan ruang untukku bisa mengukir senyum di bibirnya, justru kusiakan kesempatan, haruskah menunggu saat dia terbaring tak berdaya baru kubersimpuh dan bersujud memohon untuknya pada Dia? Ah bunda anakmu tak pernah berniat durhaka, tapi kerasnya kehidupan yang penuh dengan tantangan meminta tanggung jawab waktu padaku untuk berjarak denganmu, "Ibu maafkan aku"

Ibu adalah kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir bibir manusia, dan "Ibuku" merupakan sebutan terindah, kata yang semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa, ibu adalah keabadian bagi semua wujud, penuh cinta dan kedamaian.

Ceritakan kepadaku tentang pedihnya kehilangan, yang terbang di atas senja merah, yang menyisakan ngilu yang menikam di dada,dalam derap waktu yang bergegas, agar segera dapat kubaluri hatimu, dengan sejuk bening tulusnya sayangku. Ceritakan padaku tentang perihnya pengorbanan yang membakar habis segenap asamu dan meninggalkan sepotong lara yang mengendap di kalbu, agar kubuatkan rumah di atas awan biru tepat di puncak larik pelangi yang akan kubangun dari setiap desir angin rindu, tapi jangan pernah lagi kudengar sesal bakti pada ibu yang terlambat kita sadari, karena aku tidak pernah bisa berucap apa-apa.

Dalam jeda sesaat mataku menyapu sekeliling ruang kamarku, yang kumiliki kini? pernahkan ayah dan ibu meminta apa apa demi kebahagiaan mereka?t ak pernah kudengar keluh atas sikapku yang penuh khilaf, yang mereka tanya "Apa kau baik saja di sana nak?" dan kudengar nada bahagia saat kubilang aku bahagia, Tuhan jaga selalu kedua orang tuaku, kuikhlaskan semua sisa waktuku, jika mereka meminta baktiku kembali di sampingnya, segunung emas takkan sanggup lunasi jasa seorang bunda.

16/04/2011, 11:20PM
Inspirasi, SMS seorang sahabat, semoga ibumu lekas sembuh, semoga Allah meringankan dan beri terbaik untuk ibumu, amien.
Oleh: Moes Arsyil Ramadhan Afrilla (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Rabu, 13 April 2011

Kau Bukan Pemenang


Lelah...
Rasa itu yang kurasa di ragaku
Jenuh itu yang hinggap di jiwa
Jiwa dan ragaku melebur dalam hujatan diri

Kau tau kawan...
Ada sosok baru menghantuiku
Aku ingin bercerita banyak padamu
Tentang siapa dia yang jadi tanya hatiku

Bukam kupilih bungkam dalam diam
Lidahku kelu dalam kunci bibirku
Bagaimana kubisa bercerita
Dia masih misteri dengan sejuta tanya dia siapa
Yang begitu ketat mengurungku dalam setiap desah nafasku

Kurayapi sekujur kesepianku
Mengundang angan dan sengat kumbang
Mata bintang yang diam dan berkelesatan
Menyuguhi harapan di semesta lenggang

Sampai kasih dan ingin terbentang
Membujuk pengembara merakah
Yang tenggelam di bawah kubang resah
Di mana dia yang datang sesaat lalu

Membujuk arah pengembara merambah
Terus mewangi aroma bunga cinta sampai ujung hari
Membangkitkan gairah sang pencinta dalam darah
Yang menentangkan kesenyapan sendiri

Dalam batas asa kumengagumi sesok diri membaui
Dan membenamkan dua serpihan bintang
Yang memancarkan pesona terang

Ia selalu memintaku melukiskan kisah yang ada
Atas cinta terperi di dinding-dinding hati
Kami hanyalah para pecinta mengharap sejati
Bersama berkelana dari waktu-kewaktu

Akhirnya kusadari
belum saatnya kuraih cinta asmara
aku belum pantas dicintai
karena kubelum bisa mencintai...

Heyyy kau sosok asing
Loe belum menang sampai detik ini
Aku takkan pernah bisa kau taklukan
Sama seperti ucapmu yang lalu
Takkan ada yang mampu runtuhkan hatimu

Angkuhmu beradu sombongku
Selamat tinggal cerita kita!!!
Sku takkan mengaku kalah dalam permainan rasa
Kau bukan pemenang...

12/04/2011
Oleh: Moes Arsyil Ramadhan Afrilla (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Rabu, 06 April 2011

Sadarkah Kau Kucintai


Kutasbihkan citamu dalam mimpiku
Dalam dekap doa pada kuasaNYA
Kuingin kita tertawa dan Menangis bersama

Tiba-tiba begitu ingin ku lewati waktu denganmu
Kuingin ada di sampingmu
Untuk selalu bisa berkata?
Berkata "Teruslah mencoba kau pasti bisa"

Saat kau memaksa kakimu untuk tetap berdiri tegak
Kuucapkan "Bangunlah dan jangan dulu menyerah"

Saat kau mencoba berjalan di atas kakimu sendiri
lalu terjatuh
Teriakan
"Sakit itu bukan apa apa,kamu harus tetap berusaha demi mereka yang menyayangimu"

Saat kakimu penuh memar dan biru lebam
karena berulang kali terbentur
Ketika kau berusaha berjalan
Lepaskan tongkat
Dengarkan pekikanku "Jangan pedulikan mereka, karena cintaku tak pernah pedulikan apapun,yang ada padamu,selain hati dan ketulusanmu"

Saat banyak mata memandangmu dengan tatapan tajam
Seolah dirimu mahluk aneh dengan tongkatmu
Ku ingin bilang "Jangan sedih, aku ada di sini untukmu"

Saat seluruh dunia mengacuhkan hadirmu
Kumengatakan "Hapus air matamu, kita bisa hadapi apapun bersama"

Ketika perih menyayat-nyayat hatimu
berbisik "Lepaskan rindumu, karena walau raga berjauhan hatiku dekat denganmu"

Saat hatimu kosong...

Kau pribadi yang menunjukan kedamaian
Sarat akan jutaan makna yang tak mampu kujelaskan
Jiwa yang dipenuhi oleh bias kehangatan

Takkan kujemu dengan kebersamaan denganmu
hatiku takkan letih untuk selalu ada dan terbuka
Kuingin rasakan bahagia dan luka bersama
Dalam kalbu doaku menjagamu

04/04/2011
Oleh: Muslimin (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Jumat, 01 April 2011

Biarkan Embun Pagi Mengering


Kabut mulai turun dari lereng-lereng bukit kerinduan, lalu berkelana demi mencari jawab atas tanya, sampai di antara riak-riak pelangi. Mentari mulai mencair, angin ikut membeku. Kicauanku lenyap tak terdengar, benarkah aku yang akan menghilang? demi waktu yang kuhabiskan tanpa sia-sia, demi genggaman yang ingin sesaat kulepaskan, demi persahabatan kita, andai kau rasakan apa yang kurasakan, tetap tegar, tetap bersama, jangan kau pergi lagi.

Apakah setengah dari hati ini telah mati, hingga saat kau berucap"Jujur aku kecewa padamu, maafkan aku jika kusalah" Aku membutakan mataku, aku menulikan telingaku, mendustai nurani, hanya demi ego diri yang ingin tetap pergi? dan kubiarkan kesombongan ini membawaku di telan bumi, terlupa pada mereka yang selalu jadi lentera-lentera malam yang tenang, mutiara yang bersinar, dengan ketulusan yang tetap terjaga.

Maafkan aku sahabat jika tajam kataku sempat menyobek bahkan terkoyak hatimu, lupakan jika aku berkata sempat ingin pergi dan akhiri. Aku ditampar malu oleh lentera yang selalu tepati janji pada senja, walau sangkalku tak selamanya bintang berkedip lalu berpijar, mungkin sudah suratan burung-burung terbang ke utara demi menangkis kutukan sang peri pagi hari, mungkin juga begitulah aku yang tak pernah bisa pergi meninggalkan kisah persahabat kita, terlalu indah di kenang, terlalu pedih dilupakan, apalagi jika kau juga tau sobat, betapa Rosa rela online di atas pohon dengan bekal cemilan favoritenya setandan pisang, hanya demi tak putus persahabatan, dan ingin sekedar tau status para sahabat, dan Yopi yang artis itu sesaat jadi ingusan. Adi yang berubah SMS duluan hanya untuk bertanya kabar? ah seratus, seribu, sejuta maaf kupinta pada kalian sahabat.

Batu itu keras, tapi akan hancur bila saatnya bertemu dengan besi, dengan massa, gaya, dan momentum tertentu, itu jugalah yang menyebabkan perubahan dari zaman Neolitikum ke zaman logam. Besi itu keras tapi akan meleleh apabila tiba saatnya bertemu dengan keadaan 1.800 C. karena api itu panas, tapi akan padam oleh air, karena air menghilangkan dua dari 3 unsur penyusun api, yaitu panas dan oksigen yang hilang akibat bereaksi dengan uap air. Dan akupun takluk dalam sujud syukur bersabahat dengan kalian yang telah luluh lantakkan angkuh jiwaku.

Kadang kita berharap Tuhan menyibak salah satu tabir rahasianya, seperti matahari yang terbit di timur dan tenggelam di barat, atau seperti waktu yang tiada pernah akan berhenti. Perasaanku akan selalu dekat denganmu sahabatku.

Dalam kesendirian, sekian lama kucoba artikan sebuah arti ungkapan lama"Betapa nilai seseorang sangat terasa, justru ketika ia tiada, dan ketiadaan kalian memberi petunjuk yang amat nyata, betapa rapuh jiwaku dalam kesendirian, dan betapa utuh dalam kebersamaan kita".

Kalian terang yang yang memupuskan batasan dan alasan
Menuntunku menuju kedamaian hati
Menuju tempat yang indah
Di mana kasih selalu tercurah melimpah

Sadarkan aku untuk bangun
Dari ilusi kegelapan
Tanpa rasa gentar dan pergi!!!

Kini kusiap mengikuti terangmu sahabat
Jangan pergi, tunggu aku jika memang ingin
Biarkan jika embun pagi mengering
Aku hanya tau kebersamaan kita indah
I Can Always Make You Smile :)

03/03/2011, wed, 02:55 PM
Oleh: Muslimin (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Senin, 28 Maret 2011

Buanglah Aku pada Tempatnya


We are so proud having brother like you, although now you different, we still keep our smile for you. Yang kutau dulu senyum dan semangat itu selalu hadir, dan kalaupun semua itu kini tertelan bumi, ada kami semua yang siap selalu bersamamu. Hati kita selalu menyatu, sepenggal puisi Rosa untuk sahabat. Sederhana namun syarat makna. Atau Rosa yang lebay kali ya. hehehe. Tapi aku tetap setuju kita ber-enam bukan disatukan oleh misi materi, tapi kebersamaan dalam ikatan tanpa paksaan.Tidak adil rasanya jika kami hanya ada saat kau bertahta, saat kau berbagi tawa, saat kau penuh puji-puja, dan kami bukan pecundang yang akan menghilang saat salah satu di antara kita gamang, jika situasi itu ada padaku? banggakah aku jika semua hilang satu-satu, menutup mata dan telinga dengan sejuta pura-pura sampai menunggu kembali ceria dengan tanya?

"Eh maaf kemarin gw sibuk?" Jiah basi, klasik, memang sehari dia gak makan siang atau malam, jika dia sahabat sejati, dia pasti selalu punya celah dan waktu, selepas shalat misalnya, sekali SMS tidak menyita 1 jam kan? paling ngadat kirim Callme, persahabatan ikhlas itu indah, kebersamaan adalah kekuatan baru, bukalah hatimu, diam tak selamanya emas?

Yes, ada yang rela jadi tempat sampah, lagi-lagi Rosa beri inspirasi di sini, dilanjutkan dengan obrolan ringan dan berujung tantangan. Ya, itulah persahabatan, selalu ada cerita dalam kebersamaan, benarkah aku mau jadi tempat sampah buat sahabatku? terhinakah aku dijadikan tempat sampah sahabatku? ah tentu saja tidak, bukankah persahabatan tidak mengenal perhitungan laba-rugi? tidak pernah bertanya kau jadi apa, biarlah keempatnya menempatkan diri di tempat terpandang dan penuh pujian di rumah jiwamu dan aku kebagian jadi tempat sampah di rumahmu, hehehe, kutersenyum, aku pasti menang karena aku jadi pengatur strategi ceritaku ini, "Jadi suka suka gw dunk cari celah, hehehe..."

Jadi tempat sampah? keputusan yang bebal dan fatal, anehnya tak kurasakan sesal, seakan kutersadar, betapa nekadnya aku. Benarkah aku bisa begitu? gimana lagi? Evi sudah jadi bunga di taman, Ana sudah jadi patung porselen di ruang tamu, Rosa sudah pula jadi lukisan di ruang makanmu, sementara Yopi meminta jadi mutiara, berlian atau mobil limosin, (ckckck), sementara aku hanya jadi tempat sampah untukmu, pasti terpikir oleh mereka betapa bodohnya aku, "Jangan tertawa kecut gitu sob" akan kukatakan kenapa aku bilang begitu, biar kamu tak lagi cemberut dan bermurung durja, kuhanya ingin kau selalu tersenyum indah.

Kenapa memilih tempat sampah, karena dengan begitu kau selalu bisa miliki aku, tak peduli kau kelak kaya atau miskin, kau akan tetap butuh aku saat kau beruntung, kau juga takkan mampu mengadaikan dan menjualku saat kau merugi dan buntung, memang siapa yang mau terima gadai tempat sampah? apalagi beli bekas?, hehehe.

Aku akan ada di setiap ruang, saat kau makan sebiji permen pun kau akan mencari aku untuk menampung sisa bungkusnya, tiap waktu aku akan selalu ikut merasakan tiap makna yang kau cerna, lukisan megah Rosa di ruang makan hanya bisa memandang iri tiap kali kau beri sebuah sisa untukku, dan aku tidak akan takut penuh, karena kau akan segera mengosaongkan aku saat kau butuh, hingga aku selalu dapatkan yang baru dan beragam darimu. Achh betapa kau tak sadar sob, kau buat aku merasa istimewa.

Saat kuterima tantangan jadi tempat sampahmu, karena aku tau dengan begitu, ketika kau begitu semangat kau lakukan banyak hal, maka akan semakin banyak hal yang tidak penting yang kau titipkan padaku, saat kau susah, merasa serba salah, merasa gagal, dan kau tumpahkan pada kertas yang sesaat pasti akan kau serahkan padaku tanpa ragu, mungkin kau duga aku tak paham semua, tak mengapa, lebih baik kau tak usah tau, betapa aku membaca dan pahami tiap jejak rasa dan pikirmu, kau takkan mampu sembunyikan dari ikhlasku..

Biarlah yang kotor dan terbuang kau serahkan padaku sobat, hingga ada bersih dan mamfaat padamu, dengan rela akan kudekap tiap sisa-sisa rasa dan serpih perihmu yang tersembunyi, kenapa begini susah mengurai kisah, kenapa begitu sulit mengait mimpi.

Bergerak tanpa henti menembus gelap dan terang. Tiba-tiba aku tersadar, hidup tanpa masalah adalah bodoh, pohon yang tinggi ternyata mampu bertahan karena kokoh melawan angin, seandainya hidup seperti melewati gurun selain membutuhkan air, ternyata ketabahan jauh lebih di butuhkan, sobat bacalah puisi rosa jika sesak kembali menyapamu, tersenyumlah melihat lukisan dua lelaki empat perempuan membentuk lingkaran, bukankah kosong di tengahnya adalah dunia, jika kita bersatu, kita akan mampu mengurung dunia.

26/03/2011
Setelah baca status puisi "Di Kala Emosi Meledak Hebat", dan sebuah comment "Yes ada yang rela jadi tempat sampah" hehehe

Oleh: Muslimin (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Jumat, 25 Maret 2011

Gerhana atau Purnama


Teruslah menjejak pasir-pasir dalam angkasa lamunan, membumbung, memuncak menanggalkan beban di pundak, mengayuh setinggi-tingginya kesenangan, meramu mimpi di kutub bumi pagi ini. Sesosok bocah masuk saja tanpa salam apalagi permisi, wajah kusamnya jelas terlihat dalam balutan pakaian yang telah memudar warnanya, ada sedikit sobek di bagian bahunya. Bocah perempuan berusia sekitar 3 tahunan. Aku sedang sendiri di ruang tamu rumah bunda setelah tadi sempat berisik oleh keponakan dan teman mainnya yang pergi sejenak setelah kuberikan uang untuk jajan. Mainan rumah-rumahan dan boneka serta masak masakan masih mereka biarkan di sudut ruang, dan anak kecil ini? masih asing, padahal anak-anak tetangga rumah bunda nyaris semua kukenal.

"Siapa dia yang hadir tanpa salam apalagi permisi (hehehe namanya juga anak kecil). Ah mungkin dia salah satu teman main Hesty keponakanku" pikirku dan biarin saja dia mengacak sejenak mainan lalu mengambil sepeda dengan riang terpancar di wajahnya kini. Membunyikan bel sepeda tanpa menganggap aku ada menatap tingkah polahnya. Aku hanya tersenyum dan dia sesaat menatapku asing. "Ini mahluk siapa sih? loe ngapain liat-liat gw?", mungkin itu dalam benak pikirnya. hehehe

Sesaat jeda, purnama di ujung mata memecah buih di angin, melabuhkan segenggam asa dalam bukit-bukit menjulang ke awan, hingga membayang udara dalam tarikan nafas.

"Heiiii! Lusie?" Suara mungil dari depan pintu mengalihkan pandangku sesaat,

"Ni anak-anak pada main masuk aja tanpa salam lagi, hehehe gue jewer juga ntar, untung loe-loe pada anak orang, hehehe jadi gak apa-apalah" Aku maklumi, suara itu kuanggap biasa, tapi hufff, bocah tadi? keceriaannya menguap entah kemana, seperti terdakwa kasus korupsi milyaran, reflek dia turun dari sepeda, wajahnya diselimuti ketakutan, si Nina langsung memeriksa mainan mereka tadi seolah mengecek barangkali ada file yang kehapus,"Ciyee berat ni anak-anak TK,hehehe" Si Nina aku kenal, dia teman sekolah Hesty, anak salah satu tetangga yang kebetulan seusia dengan keponaanku si Hesty.

"Ke mana?" Tanyaku pada Nina.

"Lagi nunggu kembalian Om" Jawabnya tanpa menoleh kepadaku (lagi-lagi aku dicuekin hehehe).

Terdengar langkah ringan, tanpa melihat kupastikan si Hesty datang.

"Assalamualaikuuuuuuum" Suara itu dibarengi tawa khasnya, tangannya dipenuhi snack, sementara matanya langsung tertuju pada Nina kemudian mengalihkan pandangannya kepada bocah yang kini ternyata telah merapat ke dinding, matanya seakan bicara "Om lindungi aku please? hehehe". Akankah si Hesty ikut murka?

"Ty masakan kita di tumpahin Lusie, boneka barbie gak ada?" Anak itu seakan tersadar sontak melepas kedua boneka kecil segenggaman tangan yang langsung dirampas Nina.

"Ihh kau ini pulang kau!!!, si Lusie kalau datang pasti mainanku ada yang hilang" Sungut Hesty.

"Kalau mau main jangan dibawa pulang tanpa bilang pinjam, nanti mainanku kurang terus, dasar pencuri" Sambung Nina lagi. Hah... Aku tersentak, anak-anak ini? dan bocah itu.

"Diajak main Ty kasian dia gak punya mainan" Suara kakak dari ruang tengah.

"Malas ama diakan masih kecil" Jawab Hesty sok tua, padahal hanya bertaut 2 tahun mungkin. Lalu dia menatap ke arahku.

"Si Lusie main sepeda aja" Kataku melerai pertengkaran kecil itu. Akhirnya dia mengambil solusi sendiri, anak itu tanpa ba bi bu, kembali terlihat riang dan langsung naik kembali, aman pikirku sambil beranjak menemui kakak ke ruang tengah, menuntaskan penasaran siapa bocah kecil yang asing di pandanganku.

"Dia anak siapa Kak?" Tanyaku.

"Anak si Edo ,Dek. Tinggal di kampung istrinya"

Edo?, ya aku ingat, sejak SMP aku tak tau kabarnya, pernah terbersit kabar dia menikah dikarenakan kecelakaan, dan dia tinggal di kampung istrinya. Mungkin berapa kali puasa dan lebaran dia gak pulang pulang (Bang Toyib banget hehehe).

"Sekarang mereka sudah pindah ke kampung ini lagi, dengar-dengar ribut sama mertua, si Edo suka main judi, sementara istrinya kerjaannya kayak masih gadis Dek. Itu jadi omongan ibu-ibu sekitar sini. Kerjaannya turun rumah 1 naik rumah 1, ngatain orang ini itu, anak gak diurus, ikut orang noreh gak mau, gengsi, si Edo sekarang nganggur, kadang kasian liat anaknya, kalau liat kawan-kawannya jajan, dia hanya liat aja" Penjelasan kakak lumayan panjang, sebuah pelajaran yang bisa kupetik dari penjelasan kakak.

Cinta, apakah cukup bermodal cinta? Jika ingin berumah tangga? Tradisi di kampung memang terlalu sulit diubah, biasanya orang tua begitu mudah menikahkan anaknya di usia muda? asal ada untuk acara hajatan dan bayar penghulu maka langsung nikah. Pernahkah mereka terbersit pikiran bagaimana kehidupan setelah pernikahan? iya kalau anak mereka terlahir sehat? bagaimana jika anaknya sakit? bagaimana untuk biaya sekolah mereka nantinya?.

Kembali ke ruang tamu. Wajah cerah anak di atas sepeda, dengan nyanyian kecilnya. Ah bocah polos, kau buat aku semakin bertanya. Arus air di danau, kehidupan semakin beriak, sementara aku tau ini akibat pikir yang dangkal, ada apa dengan hidup ini? Masihkah ada tempat untuk harapan yang pulang dengan sesal!. Hai bocah cilik maafkan aku ingin bertanya, gerhana ataukah purnama kelak yang menunggu hari depanmu jika orang tuamu terus begitu?

22/03/201
Oleh: Muslimin (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Selasa, 22 Maret 2011

Burung-Burung Kertasku


Kuterbangkang burung kertasku dengan kacamata hatiku, dan kualamatkan rindu ini tepat di jantungmu, sehari atau semalam saja, sebelum hujan mengamuk merapuh dan luluhkan sayapmu. Bacalah dengan mata terpejam sayang, sampai air matamu menjenguk tiba yang tergesa gesa.

Terbanglah burung kertasku, lipat angin badai yang coba halangi kepak sayapmu. Ijinkan aku menikam perasaan, hanya untuk mengekalkan rindu yang mengambang pada sosok nun jauh di sana. Sosok yang kukenal lewat getar dawai hati. Utuh tak utuh sama saja bagiku. Percuma utuh jika bersamanya aku keruh. Sebaliknya lebih berguna jauh jika teduhnya mendamaikan jiwa nelangsaku yang kadang menggigit erat, sampai sesak.

Jika burung kertasku tiba padamu, tolong kau tulis di dinding hatimu. Jika suatu hari kau ingin mencari sosok yang menyayangimu dengan hati, mengasihimu dengan murni, mencintai dengan ketulusan yang dia punya, dalam batas cinta manusia, jangan pernah enggan berbagi rasa denganku di sini, catatlah sayang. Jika tiba dan pergi adalah kesementaraan, yang selalu kita ingat adalah kau anugrah untukku dan aku akan selalu mengindahkan hadirmu.

Rasa yang menautkan aku mengagumi sosokmu, saat sepi disini, mungkin sudah takdirnya, bahagialah bila kita masih punya mimpi. Hidup adalah perjalanan mencari kebahagian. Saat kau lelah kepakan sayap mudamu, lipatlah kertas-kertas bekas sekalipun. Ingatlah hidup hanya sekali, tersenyumlah warnai hati dan hari, masih banyak yang sayangi kita.

Sepi itu serdadu, punya mata panah sendiri. Bening kaca jendela telah menetaskan wajah teduhmu yang hanyut bergelayut di jiwa. Yang harus kau tau, kita adalah bagian yang terpasung dari musim yang tidak pernah kita pinta. Biarkan burung kertas kau dan aku terbang seimbang, di kiri dan kanan sayapnya ada namaku dan juga namamu. Tinggi menukik langit mimpi, terbang rendah untuk berbagi indah,kaulah yang ajarkan gerak kaku ini menjadi cerita.

21/03/2011, 10:46
Inspirasi, sosok asing yang tiba-tiba menggoda jiwa, yang tiba-tiba membayangi setara dengan kekasih yang kumiliki, huff mungkinkah kujatuh cinta lagi. :p

Oleh: Muslimin (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Minggu, 20 Maret 2011

Tangisan Akhir Februari


Haruskah kubiarkan takdir itu menulisku
Kemanapun ia suka dan kemanapun ia berhenti
Gamang jiwaku
Tulislah aku menjadi, hingga keluar dari kesunyiaan ini

Hujan malam akhir februari
Di atas duka yang sedang ranum
Kutuangkan kemabukan, berharap basuh luka lara bersamanya
Tangisan dalam derai hujan basah
Takkan ada yang tau kecuali aku dan Tuhan

Izinkan Tuhan aku mabuk
Hingga kudapati Kau dalam hilang sadar yang mengambang
Sebab jua aku menunggu berjuta pinta
Tak juga kudengar jawab atas tanyaku

Izinkan Tuhan aku membencimu
Hingga kusadari Kau menjadi sebentuk cinta
Kejarlah aku
Kepada perhentian tanpa upah

Aku lelah Tuhan
Kubiarkan hujan basah kunyupkan ragaku
Alirkan tangis jerit jiwaku
Hilangkan gamang pupuskan resah
Aku tak berdaya tanpaMU yang Maha

Jasad dan ragamu teman
Masih bernyawa dan bernafas
Kuhanya mampu berbagi doa
Tuhan tiada mengantuk dan tiada tidur
Takkan ada pinta sia sia

Betapapun inginku kita bermain di bawah hujan
Seperti masa kecil dulu
Tapi gilas roda waktu tak pernah peduli
Kini kau terbaring lemah tiada daya
Aku bermain sendiri bersama tangisan kepiluan ini
Aku masih sama seperti dulu
Ada mata dan hatiku
Kau tetap teman yang sempat ikut warnai hari kecilku

18/03/2011
Inspirasi menjenguk teman yang terponis lumpuh akibat kecelakaan, dia yatim, ah betapa takdir kadang sulit kutanya adilnya, tapi kuyakin perhitungNya tiada pernah salam, semoga Tuhan beri keajaiban untukmu teman, amien.

Oleh: Muslimin (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Selasa, 15 Maret 2011

Hati Seorang Ibu


Sebut saja nama sahabatku, Roy, Ardy dan Ronald. Roy anak tertua dari empat bersaudara, kebiasaannya main melulu, dia tahan berjam-jam bermain playstation. Sedikit manja, tapi lebih banyak mengalah dan selalu ikut saja jika ada ide dari teman yang lain. Ardy, anak kedua dari tiga bresaudara, sedikit dewasa, hobinya bisnis, walau hanya berjualan ikan teri yang kami kumpulkan bersama, biasanya dia lah yang menjualnya ke kampung pamannya, dengan laba untuk makan bersama-sama, tanpa ada perhitungan modal siapa atau dari siapa. Dan satu lagi adalah Ronald, bungsu dari enam bersaudara, sedikt pendiam, bahkan terkesan angkuh jika belum mengenalnya lebih jauh. Sedikit tertutup sifatnya, tapi setia kawan dan sedikit playboy, mngkin karena fasilitas dan tampangnya yang inocent jadi dia terbiasa diburu oleh wanita, hahaha, dan aku sendiri juga anak bungsu dari empat bersaudara, tidak ada yang istimewa dari sosokku, kecuali sebagai pelengkap ketiga bersaudara di keluargaku.

"Bagaimana kalau kita ke perpustakaan aja, gratis sekaligus nyari bahan, buat tugas, kalau dapat kita pinjam semua masing-masing 1 buku, siapa cepat dia dapat, Roy loe kebagian ngetiknya, Ardy kebagian beli kertas HPS, Ronald kebagian ngeluarin modal, gw kebagian meringkas dan membaca empat buku sekaligus, yang nantinya akan di jadikan 15 makalah, dengan sedikit dibeda-bedakan, biasanya mahasiswa yang tidak mau repot ini dan itu mau membelinya" usulku, serempak senyum mengembang di bibir ketiganya.

"setujuuuuuuu" teriak ketiganya yang membuat sekeliling kami menoleh penuh tanya.

Ini adalah keempat mahluk yang selalu buat onar di kelas, tidak ada yang lain kecuali selalu memamerkan kemesraan seakan dunia milik mereka, hahaha. Masa remaja adalah masa penuh ceria. Aku memang punya banyak kenalan di kelas A sampai D. Lima kelas seangkatan kecuali kelas E yang kebagiaan sore, dikalas itu aku hanya sempat mengenal saat ospek. Aku juga rajin menyapa semua orang, jadi otomatis aku lebih banyak mengerti tentang daerah asalnya dan juga sedikit tau tingkat kemalasan dan ekonomi teman-teman, yang mana yang tidak punya kendaraan, komputer atau laptop, atau yang murni malas dan gak mau capek-capek mencari bahan alias hanya tau anggukan kata setuju. Singkatnya kami berhasil mendapatkan 40 pesanan maikalah.

"Gampang" ujarku, "Serahin gw soal ginian", kami menawarkan dengan harga terjangkau, 20.000 sampai dengan 30.000, dengan bonus tak akan ada isi yang sama, mereka tidak perlu capek ke sana dan ke mari mencari bahan. Belum ongkos transport, milih bahan cocok, mengetik dan menjilid. Singkatnya semua telah kuhitung di luar kepala, ongkos satu makalah yang terdiri 7 halaman dihargai 5.000 perak. Bayang-bayang keuntungan membuat ketiganya semangat 45. Bismillah bisa, kami pulang dan sebelum ke perpustakaan aku minta singgah sebentar ke rumah kakak sepupu yang jadi wakil menjagaku di kota ini, bunda tidak percaya jika kuharus tinggal di kost, ya... aku manut saja perintah bunda.


Di dapur saat kuingin sedikit melepas dahaga setelah kepanasan di perjalanan, sebuah suara memanggilku dari balik dinding dapur,

"Om tadi ada pesan Mama, Om disuruh nyusul ke bandara kalau udah pulang kuliah"

"Siapa yang datang tanyaku"

"Om andre kecelakaan Om" jawabnya singkat tapi bagai bom atom yang meruntuhkan langit beserta isinya menimpa seluruh tubuhku hingga hancur saat itu juga.

praaangggg

Gelas di tanganku lepas menimpa porselin sehingga menimbulkan suara gaduh (Jadi ingat AADC, pecahkn saja gelasnya biar gaduh sampai mengaduh, hehehe) keponaanku hanya melongo, tanpa berkata-kata. Aku harus segera ke bandara, berlari keluar menemui ketiganya yang menunggu di teras, tanpa membereskan pecahan dan keping kaca yang berserakan, mereka bertiga hanya bilang "iya" saat kuajak ke bandara, kuberlari menemui bunda, wajah itu terlihat tabah,

"Sabar Nak" ujarnya memeluk erat aku, ketiga sahabat ikut mendatangi bunda, menyalami dan ikut mencium tangannya, seperti yang kulakukan saat pamit ke orang tua mereka.

Rumah sakit, di situ aku liat wajah abang tertuaku berbalut perban, seluruh wajahnya tak terlihat.

"Dokter di kabupaten bilang harapan hidup atau tertolong 40%, makanya keluarga memutuskan carter pesawat" ujar abang sepupu yang ikut mengantar menemani bunda dan kakak. Aku baru sadar abang keduaku dan bapak tidak terlihat.

"Bapak tidak ada di rumah dek, Edy nyusul ngasih tau bapak, nanti mereka nyusul sekalian nyiapin biaya buat di sini" ujar kakak perempuan satu-satunya yang seperti membaca pikiranku. Ya dialah kakak yang paling dekat dengaku tentu setelah bunda, dan dia pulalah yang mengasuh dan merawatku dari kecil saat bunda sibuk ke sawah dari pagi sampai petang mengiring mereka untuk pulang.

Hari setelah itu semuanya kelabu dan mendung melukis pasti duniaku, semangat dan ceriaku terhisap rintihan sakit abang. Ketiga sahabatku seakan ikut larut dalam duka yang sama. "Maafin kami hanya doa dan menemani loe yang kami bisa lakukan" ujar ketiganya.

"Seandainya gw udah kerja mungkin bisa lebih" Ujar ardy, aku hanya tersenyum patah.

"Maafin gw sahabat-sahabat" ujarku, "Mungkin gw akan berhenti, semua telah kupertimbangkan sendiri" ketiganya serempak menoleh, mereka begitu mengenalku, terkadang ucapanku seperti titah tak terbantah.

"Cuti maksud loe" setelah sedikit tenang dari lengang, suara Ronald memecah sunyi.

"Gak tau sob, yang jelas mulai besok gw akan ikut bunda pulang" kutau hati ketiganya sama hancurnya saat itu, sampai keberangkatan bus besoknya mereka bertiga masih diam terbungkam.

Kampung bunda, hari di mulai dengan biasa, seluruh harta telah ludes yang bisa dijual`untuk biaya pengobatan,`rumah sakit tentu bukan panti sosial,`16 hari di ruang ICU, ditambah dua bulan di ruang perawaran, tanpa bunda bercerita apa-apa aku bisa menghitung sendiri, sementara selama aku beranjak dewasa yang aku tau abang tertualah yang menanggung semua biaya kuliahku dan juga membantu kelauarga, ayah dan ibu hanya petani biasa, kakak hanya guru honorer, sedang abang nomer dua asyik dengan dunianya, Tuhan kau dimana jerit batinku, sekejam inikah kau coret jalan takdirku,aku kebanyakan mengurung diri, aku bukan anak kampung yang kuat fisiknya untuk bekerja kehutan mengangkat balok, atau bakerja menjadi kuli truk pasir, jikapun aku mau, apa mereka mau terima, selain itu aku belum siap menerima beban mental mendapatkan tatapan iba warga, senyuman sinis para tetangga, kusadari berat buatku, tapi yang paling berat justru bunda, kehilangan dua jagoan yang ia banggakan dalam waktu nyaris bersamaan, dipundakku dia ingin titipkan kebanggaan sama warga, kalau anak seorang miskin sepertinya juga bisa jadi sarjana, sementara di pundak abang dia titipkan mimpi abang mampu mewujudkan mimpinya untuk membiayaiku sampai selesai. Manusia hanya punya keinginan, jalan Tuhan adalah keputusan, Dia mampu membolak-balik seluruh isi jagad raya, apalagi setitik noda seperti keluargaku terlalu mudah baginya.

Waktu seakan meminta tanggung jawab padaku, Tuhan apa yang harus aku lakukan untuk sekedar ringankan beban keluarga? aku tak tega melihat wajah bunda yang seharian di ladang, begitu juga ayah, sementara abang kedua baru saja mulai belajar bekerja, ikut orang kerja apa saja, walau fisiknya kuat, yang namanya kerja serabutan, tetap hasilnya hanya cukup untuk makannya sendiri, rasanya aku ingin mencaci Tuhan saat itu, tapi tanam tancap akidah telah terpancang sejak dini, bunda juga selalu terlihat bangun tengah malam, ali hanya bisa pasrah kemana jam takdirku akan di putar olehNYA.


Malam masih baru bertamu, siang pamit berkawan senja, ketukan pintu seakan pekikan hinaan di telingaku, tapi kakiku tetap kuseret ke arah suara, mulutku masih tetap mnjawab salam, sosok itu yang berdiri di depan pintu, sosok setengah baya, dengan senyum bijaksana, di belakangnya sesosok lain adalah anaknya, dia menatapku penuh kerinduan, mengelus kepalaku setelah aku menyalami dan mencium tangannya, aku masuk ke dalam bersama anaknya, sementara dia bersama ayah dan bunda berbincang-bincang di ruang tamu, sesaat bunda masuk, wajahnya sembab, bunda menangiskah? aku menatap wajahnya.

"Berkemas nak, besok kamu ikut mereka" aku mengalihkan pandang ke arah anak itu.

"Iya bang kami datang jemput abang" kata anak itu, sosok tadi ikut masuk.

"Berkemaslah, kau harus ikut besok, kita mulai lagi dari awal, ayah yakin kau mampu" dia adalAh ayah angkatku sejak aku masuk sekolah menengah, kutau perang batin ibu, antara ragu dan ikhlas, ia kembali memelukku.

"Pulanglah kapan saja jika kau gak sanggup" bisiknya lirih.

"iya bunda" jawabku yang diliputi sejuta pertanyaan, yang malam itu tak sedikitpun mataku mampu tertaut.

Semua kejadian ada hikmahnya, ke mana pacar-pacar abang dulu yang datang silih berganti? saat dia bertahta? ke mana teman-temannya saat dia berjaya? hanya ada dua sosok sahabatnya yang aku ingat sampai kini, yang aku anggap abang sendiri, keluarga,dan sosok-sosok yang aku hitung saat rapuh, yang mana hanya sekedar datang bertamu, niat membantu atau sekedar datang untuk bilang "Mampus loe makanya jadi orang jangan belagu" yang jelas,peristiwa abanglah yang membuka mata dan hatiku tentang arti kasih sayang seorang ibu, seharian lelah di sawah,bagitu sampai rumah dia yang selalumengecek abang sudah dikasih makan belum, sudah dimandikan belum, memasang kelambunya saat akan tidur, dan banyak lagi yang tak segunung emas akan bisa menebusnya. Derita batinnya saat mendengar ada yang berceloteh untuk apa diusahakan hidup apalagi udah tidak bisa apa apa.

07/03/2011 02:33
inspirasi saat pulang jenguk teman di rumah sakit yang trlihat kehilangan gairah hidupnya
Oleh: Muslimin (Profie)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Jumat, 04 Maret 2011

Menghalau Kabut Risau


Jika ditanya kenapa akhir-akhir ini aku sering terlihat kuyu, aku hanya tersenyum patah pada teman-teman yang datang silih berganti,

"Loe kenapa? gw lihat loe gak seperti biasanya?" tanya salah satu temanku yang datang tadi siang, aku hanya tertawa dan mencoba tersenyum walau kutak yakin senyumku bisa lepas seperti biasanya, yang pasti aku tak ingin mereka tau aku sedang gundah,

"Loe lagi ada masalah ya?" teman lain yang datang ikut bertanya, dan jawabanku tetap sama,

"aku gpp kok, mngkin hanya kecapean dan butuh istirahat" dan mereka tidak mengejar dengan pertanyaan lain, aman bisik hatiku.


Malam ini seorang sahabat datang dari Kecamatan, ada sesuatu yang diurusnya di kota ini. Mungkin 2 hari baru selesai. Aku berusaha terlihat biasa. Semoga dia tidak ikut membaca kalut dan gelisahku. Kubiarkan dia menguasai laptopku, bermain game dan internet sepuasnya. Dia juga bisa sambil menonton DVD dengan ratusan kaset yang kusuguhkan. Bonus handphone jika dia mau telepon, SMS, atau YM-an.

"Hartaku, hartamu,sobat. Belum cukup gw belain beliin cemilan dan gorengan, nikmati duniamu di situ, aku mau tidur" ujarku, naik ke tempat tidur, tangannya masih di atas laptop, mulutnya juga masih mengunyah cemilan.

"Dasar rentenirr loe, siapa yang ngijinin loe tidur duluan" ujarnya sesaat kemudian, menimpukku dengan guling pipih yang panjang, sambil menarik selimut bedcover, aku masih pura-pura tidak dengar ucapannya, teligaku tersumbat headphone,

"Bangun gak loe" ancamnya lagi sambil naik menarik headphone.

"Uggghh ni anak kenapa lagi, mau makan n minum ambil aja sendiri" ujarku sambil kmbali coba terpejam.


"Bangun" kembali suara baritonnya disertai tarikan selimutku yang kini telah berpindah ketangannya,

"Aku mau istirahat, besok bangun awal"

"Alasan loe" jawabnya tanpa dosa, "Biasanya loe online sampai tengah malem juga, gak bangun gw pulang sekarang" ancamnya!

"hahaha" ujarku melotot, sementara di luar hujan mulai menderas, pijar kilat sesekali ikut terlihat dari celah horden dan kaca jendela kamar, seriuskah ucapannya?
"Pulang? ke mana? malam-malam gini?" walau tanpa kata dia seperti mendengar tanyaku.

"Serius nih" sambungnya lagi,

"Udah main aja sendiri di situ" kucoba alihkan pembicaraan.

"Gak, sebelum loe bangun dan cerita loe kenapa?"

"Dubraaaxx!!! aku capek mau istrahat sob" jawabku.

"Loe kira gw gak? gw lebih letih, badan gw terasa remuk, loe bayangin gw 6 jam bawa motor, mana jalan ancurr, begitu sampai kota bolak-balik sana sini"

"Ya udah tidur aja kalau gitu"

"Kalau cuma mau tidur dan istirahat. Main game dan makan, gw gak akan nginap disini, gw tinggal boking aja kamar hotel, kalau cuma 2 malem gw masih mampu bayar sambungnya"

"Shiitt ni anak, penciumannya tajam benar" bhatinku bicara

"Gw sahabat loe, bukan teman loe, jadi loe gak bisa bohongin gw, saat loe benar-benar senang atau senang yang loe buat-buat"aku akhirnya duduk (benarkah seorang sahabat mendengar sekalipun kita tidak pernah mengucapkannya, menyanyikan kembali saat kita lupa bait-baitnya) jiwaku mengapung di samudera tanya?

"Sekarang ceritakan loe kenapa?"


Kuhempaskan nafasku seakan begitu ingin kuterlepas dari beban, ragaku kembali terbaring, mataku menatap putih tanpa warna langit-langit kamar, batinku tersentak,tidak selamanya putih itu suci dan indah terlihat, kita butuh warna lain untuk mengindahkannya, dan putih tak selamanya sempurna!!

"Gimana aku mau cerita sob, aku sendiri gak tau kenapa tiba-tiba jiwaku dicekam sepi, hatiku begitu risau, jiwaku gelisah tak tentu arah,aku benar-benar gak tau!"

"Teruss" ujarnya memintaku menumpahkan semua ganjalan yang tak pernah kuucapkan pada siapapun, rasanya aku jenuh, tapi jikapun iya kenapa kutetap bungkam?

"Aku ingin pergi jauh,tapi kenapa kumasih bertahan di sini?" aku terus saja berkicau yang hanya diselengi kata terus darinya hingga aku tak tau lagi apa yang ingin kuucapkan lagi.

"Teruss???"

"Ni makan tuh bantal" ujarku.

"Dasar tukang parkirr" kami tertawa bersama, tawa canda yang telah lama hilang, tawa yang tertelan adab tata krama, canda yang terkekang oleh santun etika.

"Udah plongkan sekarang?" tanyanya sederhana.

"Iya" jawabku.

"Nah sekarang loe boleh tidur, ni makanan semua jatah gw, tamu adalah raja" ujarnya!

Ternyata pelajaran baru yang kuterima, saat gundah, berapapun materi yang kau genggam, ratusan teman yang datang, terkadang efeknya biasa saja, tapi kehadiran sahabatlah yang kita butuhkan, kalau ada yang lagi kalut share aja ya, life is beautiful with your friendship

03/03/2011
Kamarku 00:14
Lelah,letih, ngantuk menguap entah kemana

Oleh: Muslimin (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Sabtu, 26 Februari 2011

Bangkai Rindu


Malam semakin merayap sunyi
Kelopak mata ini masih berkejap tanpa kantuk
Irama yang kurindu tiada lagi
Ke mana jangkrik dan kodok bersembunyi?

Lucu memang ingin ini
Merindukan suara jangkrik di tengah padatnya kota
Merindukan suara kodok tanpa siapkan rawa-rawa
Ternyata rindu ini
Ingin ini
Harus mati dan jadi bangkai!

Sesak dada gemuruh mengaduh jengah
Bangkit ragaku menuntun langkah
Kucoba kuatkan jendela
Menatap menengadah ke angkasa luas
Nun jauh di sana...
Di lereng langit tak berkaki
Di ujung dunia yang takkan kutemui
Meluruh musim terus berganti
Kenapa rinduku masih alami?

Andai bisa kukubur bangkai rindu ini
Kuingin memendamnya berabad-abad lagi
Sampai batas usiaku nanti
Kutak lagi berharap pada yang tak kudapati
Kubisa syukuri yang kumiliki
Kuingin tenang untuk beraksi
Agar langkahku terus terarah
Agar bisa kubaktikan diri...


02092010
Kamarku oh kamar semua temanku, seribu suka duka tersirat dan tanpa tersurat datang dan pergi silih berganti, tapi di tengah gelak tawa dan canda, ada sepi menggigit jiwa!!

Oleh: Muslimin (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Rabu, 23 Februari 2011

Desaku Menanggung Beban


Pagi masih berembun basah, saat aku menginjakan kaki di terminal desaku yang asri, kuhirup segarnya udara setelah 16 jam terkurung dalam bus yang kutumpangi, yang selama perjalanan hanya bisa mendengarkan mp3 dari phonecell lewat headphone yang menyumpal telinga kiri dan kananku, selebihnya tentu banyak cerita yang terlalu panjang jika kutulis semuanya, he hehe... Alhamdullah ucapku penuh kelegaan. Akhirnya sampai juga dan aku tergesa-gesa untuk keluar dari bus itu, rasanya ingin terbang, karena keinginanku untuk segera keluar dari sejuta aroma yang membuat kepalaku nyaris pecah berderai. Coba bayangkan, 16 jam duduk manis di bus, walaupun bus yang kutumpangi sudah cukup lumayan fasilitasnya tetapi tetap saja aku terkurung lelah.

Kuseret travelbag sementara pundakku terbebani ransel berat, bukan hanya itu ditambah dua buah dus indomie yang berisi oleh-oleh untuk keluarga dan tetangga, sebagian berisi barang pesanan teman-teman. Sudah jadi kebiasaanku, sebelum pulang bertanya pada semua yang kukenal,b arangkali ada yang bisa kubantu untuk membawakan sesuatu (ada udang di balik bakwan) padahal niatnya saling menguntungkan, namanya juga pedagang pasti segala sesuatu dilakukan untuk bisnis. Hasilnya biasanya lumayan, bisa mengganti biaya transport pulang pergi. Setelah sampai di rumah langsung aku sungkeman dengan ayah, bunda dan abangku, sejurus kemudian langsung menuju kamar mandi, walaupun sebenarnya kusangat rindu berenang si suungai seperti biasanya jikaku berada di kampung, dekat dengan alam, dekat dengan Tuhan.

Waktu tiada pernah berhenti, sore hadir menyapa ramah. Salah satu hiburan di desaku adalah menonton pemuda-pemuda yang rajin bermain bola, kadang sesama anak desa, terkadang juga anak desa tetangga ikut meramaikan, tapi sore ini badanku terlalu remuk untuk ikut bergabung ke lapangan, "ah mungkin kalau sekdar main volly atau badminton aku masih sanggup" gertak hatiku. Oleh-oleh dan pesanan semuanya harus diutamakan, pelanggan or pembeli adalah raja, soal bergabung dalam olahraga masih bisa kutunda esok hari, sore ini aku akan mengantarkan pesanan terlebih dahulu sambil silaturahmi dan menikmati pemandangan desa. Sengaja kutak mengabari sahabatku dan juga sepupuku yang jadi salah satu sahabatku semenjak kecil, jika sahabatku tau tentang kepulanganku maka bisa dipastikan dia akan datang tanpa diundang ke rumahku, dan aku harus merelakan celana, baju dan sepatu atau jaket yang mana saja yang dia mau, ha ha ha. Sepupuku sekaligus sahabatku itu dulu bukan cuma karena sebaya, tapi dari Sekolah Dasar kami juga satu kelas, sehingga baik dan buruknya semua aku tau, begitu juga dia mengetahui semua tentangku.

Ditemani Hesty, keponakan satu-satunya yang paling aku rindu jika pulang, usianya 5 tahun, bawelnya minta ampun, selincah merpati gerakannya, ia ikut menjinjing 2 kantong plastik, ocehan serta kicauannya melenyapkan lelahku, ini itu yang tanya, "Ini anak kalo besar mau jadi apa" celetuk batinku, Alhamdulillah aku senang melihatnya, anak sekecil itu dia sudah bisa berinteraksi, itu bisa kulihat dari setiap kami bertemu dengan teman sebayanya atau yang lebih tua, dia menyapa ramah khas anak-anak, walau sekedar say hallo, seperti "nenek dari mana?" atau "Budi, aku nemani omku yang baru datang, ini mau ngantar barang orang" ujarnya polos. Beberapa pesanan atau amanah tertunaikan, tertinggal 1 rumah lagi, aku menuju rumah salah satu teman, kami pun berjalan kaki saja, keliling kampung, soalnya tidal terlalu jauh. Di sebuah rumah tanpa cat, dua rumah dari rumah temanku, seorang ibu muda duduk santai bersama bayi berusia sekitar 4 bulan, serta 3 orang bocah bermain di pohon rambutan, yang paling besar sekitar umur 7 tahun, yang satunya sebaya Hesty, dan yang satunya lagi sekitar umur 3 tahun, Hesty telah lebih dulu memanggil,

"Bang Imam..." pekiknya sambil berlari tanpa bisa kucegah, dia sudah mulai mendekati pohon rambutan yang rendah itu, ibu muda itu hanya bisa tersenyum melihatnya, dia menyapaku masih seramah dulu, "Kapan datang" sapanya, dia adalah mbak Atika yang masih ada hubungan keluarga dengan bunda, aku duduk di kursi kayu dekat tangga,

"Naik saja dulu" Ujarnya lalu masuk ke dalam, sudah tradisi di kampung, jika ada tamu paling tidak segelas kopi disuguhkn, benar saja, beberapa saat dia telah muncul dengan segelas kopi dalam nampan, aku terpaksa naik dan duduk di depan pintu, tidak sopan rasanya jika masuk sementara suaminya tidak ada pikirku. Basa-basi sejenak, dia mengobrol sambil menyusui anaknya,

"Bang Ray kerja di mana Kak?" tanyaku, menyebut nama suaminya, dia sontak mengangkat wajah, menatap tajam padaku sebelum kudengar jawabnya.

"Sudah tidak ada, meninggal 2 bulan lalu" Ucapnya getir.

"Kamu belum dengar beritanya ya, orang rumah belum cerita?" Tanya baliknya, gelas kopi yang siap kureguk menggantung tertahan di udara, apa aku salah dengar?.

"Dia meninggal sepulang kerja bangunan, tanpa mengeluh sakit apa" Lanjutnya setelah melihat reaksiku yang seakan kurang yakin dengan pendengaranku, kerongkonganku seakan tercekik, aku kenal mbak Atika yang hanya seorang perempuan desa yang tak punya keahliaan apa-apa, hanya lulusan Sekolah Dasar di kampungku, paling yang bisa ia lakukan adalah menyadap karet dan berladang tradisional, selebihnya? aku tak pernah melihat apa-apa yang dikerjakannya.

Pandanganku tertuju pada bayi dalam pangkuannya, lalu beralih ke tiga bocah di halaman,Tuhan bagaimana kau atur takdir ini? aku tau penghasilan penyadap karet biasa, apakah mereka punya kebun sendiri, sementara warisan suaminya? suaminya hanya seorang perantau, kutak tau bibit bebet dan bobotnya, setauku sejak menikah hanya dari pihak keluarga mbak Atika yang membiayai biaya pernikahannya, adakah yang suaminya tinggalkan? mataku menyapu seluruh ruang yang bisa kutembus, tiada sofa dan lemari, rumah juga sepertinya baru di bangun, semuanya masih serba tanggung, segini kejamkah takdir hidup? yang tak pernah terbayang olehku, siapa yang akan bertanggung jawab pada pendidikan, masa depan, dan makanan mereka? ya Allah aku lunglai, rasanya aku ingin segera pulang dan menghilang dari dunia, jangankan dia, aku saja takkan pernah sanggup jika diberi ujian itu. Aku tak berani lagi berucap, selain merogoh kocek hasil bayaran pesanan, yang telah kuhitung di luar kepala, andai saja kutau sebelum kepulanganku, setidaknya 4 baju anak-anak masih bisa kubagi.

"Aku pamit dulu Mbak, sudah hampir maghrib" Ujarku, ia terlihat masih menahan tangis, ketika kuselipkan sekedarnya, tak sanggup aku menatap lama wajah tabahnya..

Desaku yang terlihat damai dan terasa tentram, kini kau memikul beban, kaya bumimu. Ya Rabb, berikanlah pada mereka, walau hanya untuk bisa makan seadanya. Lembayung senja dilangit manja, semburat merahmu aku marah, aku selipkan kata dimana adilMu, kini lukisan kisah pilu dihadapku, di kanvas kelabu kucoretkan, Tuhan kapan kutemukan ketenangan batinku, hanya padaMU kuselipkan harapan, meskipun mungkin hanya itu yang bisa kulakukan, sayap-sayapku takkan mungkin mampu membawa semua terbang.

04:12 pm
19/02/2011
Inspirasi saat pulang mudik lebaran lalu.
Oleh: Muslimin (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Jumat, 18 Februari 2011

Aku dan Ibu Itu


Jeda yang lewat namun
Saat kubertemu ibu itu
Satu dari wanita yang dipanggil ibu oleh anaknya
Mungkin masih terlalu banyak yang lain nun di sana
Tapi kemarin aku hanya bertemu dia dan anak kecilnya

Kemarin, terik mentari seakan siap bumihanguskan apa saja yang terkena sinarnya
Bahkan sempat kudenger teman berucap
Apakah hari ini neraka sedang bocor
Sementara aku hanya bisa tersenyum beku

Sepi seakan menghisap jeritku
Betapa kuhanya mampu terpaku
Melihat lakon nyata tanpa dusta
Seorang ibu berjalan di atas panas aspal
Tanpa alas kaki dan penutup kepala

Kemana dia akan pergi???
Saat dia melintas kubertanya untuk menyapa
Aku akan pulang ke rumah jawab bibir keringnya
Raut wajah yang tergurat lelah
Mungkinkah ia lelah
Tapi demi anak dalam gendongannya ia rela terus bekerja

Jangan bilang aku salah
Bila dengan mudah tergelincir pada licin lidah
Untuk apa aku bertanya
Jika tanganku masih mendekap diam

Sesal itu ada
Kenapa aku diam terpaku
Khilaf atau aku telah mati rasa?
Untuk berucap dan bergerak aku tak mampu
Akankah tumpukan alas kaki yg kini berdebu di rak sepatuku
Kubiarkan jadi karun abad baru

Kusering merasa jenuh dan lelah
Desah basah ruah oleh waktu...

Tidakkah aku belajar pada ibu itu
Terhantam takdir ia bertahan
Menebar senyum ia mampu
Direnta usianya di masih berkarya
Walau mungkin hanya dinikmati keluarganya

Di punggungmu kulihat pendar bintang
Di dadaku kini kutanam mimpi paling nyalang
Aku yang nyaris hilang gairah
Kini merasa malu padamu

Aku tersangka
Ketika investigasi diri bicara
Samar terdengar bisik jiwaku
Aku hanya ingin tidur lelap
Ketika debat menghangat hakimi diri
Baradu kasih tulus denganmu ibu
Aku tak mampu..

Oleh: Muslimin (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Kamis, 17 Februari 2011

Itu Takdir Bukan Kutukan


Dingin kurasa ketika malam datang menyapa
Kucoba tengadahkan wajah pada langit
Dengan mata telanjang kumelihat

Rembulan pecah di antara kabut-kabut mendung
Sunyi sendiri aku benci
Kuingin daki perjalanan malam yang menjulang
Tapi bagaimana mungkin kulakukan
Melangkah setapak aku goyah
Tahukah kau aku kini lemah
Bukan daya aku tak punya
Tapi hasratku yang membeku

Mantra anak manusia yang kupunya
Telah pula kulafalkan seribu doa
Namun jiwaku masih meronta,mengamuk sejadinya
Penolakanku pada takdir mengkafirkan imanku sesaat lalu

Kucoba resapi desiran waktu melambai syahdu
Butiran sisa asa dalam debu prahara
Rasa dalam jiwaku berpadu
Kubiarkan saja sang bayu lewati masa

Dongeng waktu ikut berkumandang
Bercerita aku pada diri
Mencoba mendengarkan bisik kebisuan
Tandai kecam dalam ketidakmampuan

Maafkan aku bayi suci
Waktu dan kesempatan belum berpihak padaku
Aku belum sanggup jika
Mengikhlaskan dua retina mataku untukmu
Hanya sebait doa yang kupunya
Doa paling tulus penuh pengharapan
Penuh sejuta keyakinan
Tuhan tidak pernah tidur
Mungkin Dia hanya menguji ikhlas dan sabar
Hati ibu dan bapakmu
mungkin kelak kau akan melihat
meminjam mata Tuhan saat kau butuh

16/02/2010
08:52 pm
Terinspirasi ketika kubertemu bayi yang terlahir cacat wajah dan tiada terlihat kedua biji matanya.

Oleh: Muslimin (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......
Photobucket
 

Karya Tulis

Refleksi 02 Mei 2011

Ini hanya bagiku, entah bagi yang lainnya. Setiap hari orang-orang science mempelajari banyak simbol, dari alfabet hingga numerik atau beragam bentuk yang memang sengaja diciptakan sedemikian rupa. Aku tahu simbol-simbol tersebut sengaja diciptakan untuk

Kisah Kehidupan

Demi Sebuah Amanah

Telah lama aku berdiri di sini, di antara keramaian dan hiruk-pikuk terminal Pulo Gadung. Namun tak satupun bus antar kota yang mau berhenti dan membawaku meninggalkan kebisingan ini. Hampir satu jam lebih aku di sini, tapi semua bus antar kota nampaknya penuh semua.

Sastra

Cinta Dalam Hati ( CIDAHA )

Kala cinta datang menggoda Memanggil dan mengetuk pintu hati Lalu singgah ke rumah jiwa Tanpa kata permisi Hhm... Terdengar begitu syahdu menyentuh kalbu Namun, jika ini benar cinta Jangan biarkan cintaku padaMu hilang di hati Perkenankanlah tuk selalu mencintaiMu

© 3 Columns Newspaper Copyright by Website Nathiq | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks